Seks Sebagai Fantasi Atau Seks Sebagai Gejala

Seks Sebagai Fantasi Atau Seks Sebagai Gejala

 

Perdebatan semacam ini di satu sisi sebagai naturalisme biologis dan di sisi lain konstruk aktivitas sosial sebagai konflik oposisi dari psikoanalisis itu sendiri. Ini jauh sebelum pra-Freudian. Maka dari itu penulis perlu mengunakan konsep pendorong yang partikular sebagai pertahanan psikoanalisis terhadap pengurangan baik dari biologis maupun budaya.

Psikoanalisis Lacanian sendiri, mengikuti Freud. Dari sini kita bisa nenemukan pembelaan terhadap konsep seks sebagai yang ‘nyata’, bukan berarti diterminisme biologis tapi ini adalah penolakan terhadap simbolisasi, yang menciptakan kebuntuan. Walaupun secara intrinsik pra-simbolik terhubung dengan simbolik dan imajiner. Bagi Lacan sendiri untuk mengekspresikan ke-orisinilan pemikirannya, ia seringkali memakai istilah Pseudo-Mathematics, artinya Lacan sendiri terobsesi dengan matematika atau istilah lebih luas lagi- logika, aljabar, dan topologi. Tujuannya untuk mengatasi kebuntuan seks. 

Seks Sebagai Fantasi

Dalam studi kasus Lacan seringkali mengkaitkan bahwa lelaki hanya dapat menjadi universalitas melalui fantasi perempuan. Orentasi fantasi seks perempuan dan laki-laki ada perbedaan. Dengan cara demikian di mana hal-hal semacam itu dapat ditutupi bahwa lelaki tidak utuh baik menjadi lelaki sekalipun mengalami peleburan dengan perempuan. Karena itu kita dapat berbicara tentang manusia yang identik dengan manusia, manusia sebagai manusia, manusia sebagai universal.

Pria dan wanita adalah lawan, akan tetapi tidak ada definisi indenpenden tentang wanita tentu yang tidak menyiratkan definisi pria. Perbedaan seksual sebagai kontradiktif yang ada di logika: bahwa satu proposisi yang benar, negasinya pasti salah, atau juga bisa disebut sebagai “Hukum Tengah Yang Dikecualikan”, p atau tidak-p. Namun jika perbedaan seksual dianggap sebagai hubungan yang bertentangan, justru akan ada kemungkinan ketiga contoh yang berbunyi: semua angsa berwarna putih, dan ‘tidak ada angsa putih’. Kemungkinan ketiga: beberapa angsa berkulit hitam, berarti proposisi yang kedua salah.

Implikasinya di sini yakni, mengenai perbedaan seksualitas yang dikebiri maupun yang tidak dikebiri. Hal ini ada kemungkinan ketiga: beberapa orang memiliki vagina, labia, dan klitoris. Perbedaan seksual ini bukanlah sesuatu objek pengebirian, karena sebagian orang yang memiliki penis berbeda dengan orang yang memiliki vagina, labia dan klitoris. Hasilnya psikoanalitik hanyalah menjadi pelengkap dari fantasi itu sendiri, fantasi yang menyangkal segala pengebirian. Bagi Lacan sendiri ada satu dalam penyebut perempuan “tidak ada”, dan yang tidak ada yakni tentang perempuan itu sendiri.

 

 

Seks Sebagai Gejala

Dalam seminar ou pire yang tidak pernah diterbitkan pada tahun 1971-72. Lacan sendiri mengatakan bahwa gejala perempuan tidak ada hubungannya dengan seksual.  Posisi perempuan didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak termasuk dalam fungsi falus sebagaimana di dalam rumus Lacan being Encore.  Ketika Lacan mengatakan ‘tidak ada hubungan seksual’ ini termasuk sebagai hubungan simetris, sebagai pelengkap seperti interior yang selalu berkaitan dengan eksterior, budaya, rasionalitas-intuisi, dan sensiblitas-indra, logika-epik. Lingga sendiri selalu menandai perbedaan seksual, tapi bukan berarti dapat bisa mewakili perbedaan seksual. Dengan kata lain ‘wanita tidak ada’, tidak termasuk dalam esensi feminin, wanita tidak universal. Justru ini adalah peganggu seks lelaki yang universal. Intinya seks adalah kontestasi konstan dari ‘pria’ universal. Atau dalam terminologi psikoanalisis: pengebirian, yang menunjukkan kekurangan. 

Untuk dapat menyimpulkan: seks dan wanita harus dipikirkan secara ‘nyata’ bahwa sesuatu yang ‘tidak ada’ (wanita) dan ‘tidak’ (hubungan seksual) bukan berarti itu tidak ‘apa-apa’ melainkan ada penanda yang dapat mewakilinya. Bahwa istilah mewakili “nyata” dan ada berarti diwakili oleh penanda. Notasi logis ini melayani telos dialog tentang perbedaan yang tidak dapat ditentukan. Presentasi perbedaan tidak saling-melangkapi imajiner. 

Formalisasi seksuasi ditafsirkan sebagai salah satu dari contoh yang faktuil bahwa formalisasi Lacan tidak bisa dianggap sebagai tangan pendek  di dalam apa yang telah ia ungkapkan untuk memadai dalam prosa biasa. Formalisasi juga tidak bisa dianggap berlebihan. Demikian halnya eksposisi dalam prosa biasa yang dapat mengantikan notasi formal. Justru yang terjadi sebaliknya: formalisasi dapat melayani penyajian yang berbicara tentang pengalaman paradoks, jalan buntu, ketidak-mungkinan.

Dalam pengertian ini psikoanalisis dapat direduksi bukan menjadi prespektif biologis maupun konstruktivis. Oposisi kedua kutub ini meniadakan kebuntuan, meniadakan yang sebenarnya dari perbedaan seksualitas. Untuk mengatahui perbedaan antara Freud dan Lacan ini yakni, Freud seorang Platonis atau Cantorian- atau himpunan wanita yang ditentukan oleh undang-undang yang kekurangan penis.  Lacan sendiri yakni seorang intuitionist. 

Perbedaan tersebut terjadi ketika Freud usianya tua yang telah menjadi skiptis. Baik Freud maupun Lacan mencapai kesimpulan yang sama: sejauh penyangkut tentang pertanyaan perempuan, mereka tidak banyak kontribusi. Bagi Freud feminitas hanyalah “benua gelap” karena feminitas lebih cocok dengan maskulinitas serupa sarung tangan.

Barangkali notasi Lacan caranya lebih tepat dan elegan dari hasil yang sama tentang kebuntuan seks yang dapat disajikan. Rupanya perempuan sama dengan sarung tangan, sebagai negasinya, tampaknya ada hubungan simetris, paralelismus. Jika tanpa negasi dan mengikuti aturan logika klasik menyangkut negasi, tentu tidak ada perbedaan anatara pria dan wanita; semua dikebiri.  Tetapi jika mengikut logika intuitionistic ada perbedaan kecil namun krusial antara sisi pria dan wanita dalam formula, dari sisi feminin tidak ada yang dapat mengusulkan terbukti salah atau tidak.